Jumat, 02 November 2012

ulang tahun


Rinda sudah merencanakan ulang tahunnya yang ke-17 ini bakal mengadakan pesta besar – besaran, namun orang tuanya menolak untuk mengadakan pesta seperti itu. Ibunya lebih senang kalau acaranya diisi dengan pengajian bersama teman – teman Rinda. Tepatnya di ulang tahunnya ia sengaja kabur dari rumah dan hasilnya ibunya shok mendengar berita itu hingga ibunya kena serangan jantung dan meninggal waktu itu juga.

Kejadian itu terjadi setahun yang lalu. Kini Rinda tidak pernah mau mengingat yang namanya ulang tahun. Bahkan sejenis pestapun ia tidak tertarik. Ia selalu menyesal bila mengingat peristiwa yang mengebabkan ibunya meninggal. Namun kesedihan ini ia lebih memilih untuk menyimpannya sendiri bahkan sekalipun dengan sahabatnya. Bedanya kini ia menjadi orang yang penyendiri. Ia lebih suka sendirian apapun yang ia lakukan, orang lain ambil pusingpun ia tak peduli.

Di sekolah sedang mengadakan ekskul yang mana berupa Bela diri. Semua murid pada sibuk mengikuti kegiatan itu baik pria maupun wanita. Sedikit aneh sih..kok sampe bejibunnya orang – orang ikut. Ternyata, pelatihnya seorang biaragawan yang lagi naik daunnya di dunia entertainment.


Saat Rinda sedang serunya membaca di pinggir lapangan basket, tiba – tiba lemparan bola menghampiri kepala Rinda dari belakang.
“ Aw….” Teriak Rinda kesakitan. Ia langsung menutup bukunya dan mencari tahu siapa yang berani main – main dengannya. Ia melihat seorang laki – laki berdiri tegap namun ia bukan anak sekolah, sebab ia mengenakan baju kaos olah raga yang tidak pernah murid pakai. Rinda mengambil bola itu kemudian membuangkannya lebih jauh dari lapangan. Tanpa berkata apa – apa Rinda duduk kembali kebangkunya dan membaca kembali komiknya.
“ Begitu caranya mengembalikan bola ke lapangan? ” ujar orang itu sambil berdiri di samping Rinda.
“ Kalau loe gak senang ambil aja sendiri” cuek, terus membaca.
“ Ini jam belajar. Keluar dari kelas tanpa permisi pada ibu bapak guru dan duduk santai di taman, membaca komik lagi”
“ Di kelas gak ada guru.”

Laki – laki itu tak menjawab. Ia langsung pergi dari lapangan tanpa mengambil bolanya yang sudah jauh letaknya. Tak berapa lama kemudian, Rinda dapat panggilan ke kantor. Ternyata orang tadi mengadukannya sebab ia juga ada di ruangan itu saat Rinda masuk.
“ Benar kamu tidak masuk kelas tadi?” tanya BP.
“ Gurunya gak datang pak. Apa salah saya keluar untuk istirahat sejenak di luar?” jawab Rinda santai tanpa melirik orang itu sedikitpun.
“ Rinda…! Apa yang kamu lakukan itu kurang baik. Kalau semua siswa melakukan yang sama sepertimu itu akan berakibat patal. Jadi saja minta kamu jangan mengulang itu lagi.“
“ Terima kasih Pak atas masukannya“ balas Rinda menurut.
“ Ya sudah kamu boleh keluar. Ingat langsung masuk ke kelas“
Rinda mengangguk kemudian ia keluar dari ruangan itu. Dalam hati Rinda berkata, “ Jadi benar ia si mulut ember“

Pulang sekolah Rinda berdiri di sudut kelas sambil memeriksa isi tasnya mana tau ada yang kurang. Tak sengaja ia mendengar anak – anak bilang si guru bela diri yag baru itu sedang menunjukkan kehebatannya dengan menantang preman sekolah siang ini di lapangan basket. Hari ini ditiadakan latihan. Anak – anak pada sibuk mendatangi tempat itu. Semua guru telah pulang pantas ia berani berantam.
“ Kalau kamu bisa mengalah saya kamu boleh keluarkan saya dari sekolah ini. Tapi kalau saya menang kamu tidak boleh lagi buat masalah di sekolah ini.“ Ujar Hafiz pada Boy.
“ Ok, sapa takut“
Ternyata perjanjian itu di atas hitam putih dengan disaksikan banyak orang. Rinda yang hanya iseng melihatnya perkelahian itu. Ketika ia melihat Hafiz. ia baru tau kalau yang tadi di sekolah laki – laki yang dijumpainya itu adalah orang yang sama.
Di tengah – tengah pertandingan Hafiz tak sengaja melihat Rinda berdiri diantara siswa – siswi yang sibuk menyaksikan pertandingan itu. Awalnya ia kurang percaya ada Rinda, saat demikian Boy meninju pipinya dan tak sempat menghindarinya. Keluar darah segar dari sudut bibirnya. Kemudian sejenak ia konsentrasi pada lawan ia langsung tak memberi kesempatan pada Boy untuk menyerang hingga ia berhasil menghajar Boy.
Ketika Melihat Boy sudah tak berdaya Hafiz menghentikan pertandingan dan Hafiz dinyatakan menang. Sorak anak – anak langsung kedengaran senang Hadiz tidak jadi dikeluarkan. Namun Hafiz kehilangan sosok Rinda yang tadi terus menatapnya datar tanpa mengandung arti.

Sampai di rumah, Hafiz duduk santai di pinggir kolam renang. Ia benar – benar penasaran dengan siswa yang ditemuinya itu. Memang ia dengar dari murid – murid kalau Rinda itu sulit dimasuki dunianya. Tapi kenapa? tak ada yang tahu. Sementara itu, malam ini ada parti di rumah Boy untuk awal pertemanannya dengan Hafiz. Buru – buru Hafiz bergegas untuk berangkat.
di lain sisi, Rinda sedang asyik naik sepeda jalan – jalan sore sendirian di sekitar taman umum. Sesaat ia istirahat di bawah pohon. Ia melihat ada seorang ibu sedang memarahi anaknya karena tidak dibolehkan beli es cream. Langsung saja Rinda mendekati anak itu.
“ Buk, anaknya kenapa?“ sapa Rinda ramah.
“ Ini lho nak…dia minta es cream tapi ibu baru kecolongan uang. Ni aja ibu udah bingung.”

Kelihatannya ibu ini gak bohong. Kemudian Rinda membujuk anak itu. Namanya Ridho umur 8 tahun duduk di kelas 3 SD. Rinda kemudian mengajak Ridho beli es cream. Ia langsung senang, kegembiraannya langsung terpancar dari wajahnya. Bahkan mereka sempat bercanda gurau sambil menikmati es cream. Tak jauh dari mereka Hafiz tak sengaja melihat Rinda di Taman itu. Sesaat ia menghentikan motornya dan memperhatikan mereka. Kesuntukan Rinda hilang sejenak yang dari tadi memenuhi isi kepalanya.
“ Kak! kakak baik deh.“ Ujar Ridho.
“ Benarkah? Kamu jangan nakal sama orang tua ya! Gak boleh membantah apa kata orang tua.”
“ Ih kakak ngomongnya kayak guru aja deh” sungut Ridho.

Rinda tak menjawabnya. Kemudian ia pamit pada mereka tak lupa ibu itu meminta maaf dan berterima kasih pada Rinda. Ia sedikit bete saat Ridho bilang ia kayak guru, entah kenapa ia jadi ingat sama Hafiz yang tidak ia sukai itu. Sampai di pinggir jalan datang segerombolan anak muda mengendarai motor dengan ugal – ugalan. Rinda mendadak berhenti karena dihalangi mereka. Kemudian Rinda dilingkari mereka. Rinda ketakutan juga karena tak ada seorang pun yang lewat.
“ Ya Allah tolong aku. Bantu aku untuk keluar dari mereka – mereka ini.“ Ujar Rinda dalam hati. Di saat demikian, tiba – tiba Hafiz datang dan mendekati Rinda.
“ Eh...sebaiknya loe pergi karena gue gak ada urusan ama loe.“ Ujar salah satu dari mereka pada Rinda.
“ Dia adik gue. Punya masalah apa loe ama dia?” Ujar Hafiz
“ Gue rasa gak enak kita berantem di tengah jala kayak gini. Gimana kalau kita cari jalan tengahnya.”

Ujar laki – laki yang kayaknya bos dari geng mereka.
“ loe maunya gimana?” balas Hafiz.
“ kita balapan motor. Kalau loe menang loe boleh bawa adik loe ini tanpa hambatan apa pun.”
“Ok!” balas Hafiz. Entah apa yang ada di fikiran Hafiz. Apa dia mau menunjukkan lagi kehebatannya atau menjadi sok pahlawan kesiangan. Rinda kemudian angkat bicara.
“ Loe gak perlu ikut campur, ini bukan urusan loe. Kalau pun loe maksa untuk Bantu gue gak mau berterima kasih ama loe.”

Hafiz tak menjawabnya namun ia langsung menatap Rinda dan berkata “ kalau gue berhasil loe gak bisa ungkiri loe punya utang ke gue.“ senyumnya tipis. Rinda tak menjawab tiba – tiba anak buahnya langsung memegangi Rinda.
“ Jangan sentuh dia!” protes Hafiz marah.
“ Loe tenang aja, ini Cuma jaminan aja supaya dia gak kabur.”
“ Kalau sampai dia kenapa – kenapa, gue pastikan kalian semua gak akan selamat.” Ancam Hafiz.
Pertandingan pun dimulai. Awalnya Rinda anggap remeh keahlian yang dimiliki Hafiz, yang dia tahu Hafiz ahlinya di bidang bela diri bukan balapan motor itu pun dari anak yang suka gosip. Hingga lama juga baru mereka dua muncul. Hafiz tentunya yang paling terdepan. Dia lalu berjabatan tangan tanda tak ada kedendaman antara keduanya.

Begitu Rinda dilepaskan mereka, ia langsung mengambil sepedanya dan meninggalkan tempat itu. Begitu Hafiz bersalaman ia sudah kehilangan jejak Rinda. Benar – benar aneh. Ketika masuk kelas Rinda langsung dapat kabar kalau Hafiz jatuh sakit karena kena tusukan anak – anak berandal kemarin. Saat pulang sekolah, ia dapat informasi Hafiz di rawat di Rumah Sakit. Entah kenapa Rinda datang menjenguknya. Ia melihat Hafiz terbaring di tempat tidur. Dengan santai ia masuk ke dalam. Saat itu Hafiz terbangun dan melihat Rinda sudah ada di hadapannya.
“ Hai....?“ sapa Hafiz sedikit agak lemas.
“ Kenapa di sini?” Tanya Rinda kangsung tanpa menjawab sapaan Hafiz.
“ Kemarin, aku fikir mereka gak bawa pisau. Lalu...ya kayak kamu lihat“
“ BUKK.....!“ Rinda langsung menumbuk wajah Hafiz. hafiz sempat kaget hendak membalasnya, namun langsung terhenti ketika sadar di depannya wanita bukan musuhnya.
“ Gue kan udah bilang jangan ikut campur. Sekarang loe liat keadaan loe. Kalau loe sampe mati gimana?“ ujar Rinda amat marah.
“ ........“ Hafiz sempat bingung, ada dengan Rinda. Kenapa ia menghawatirkan keadaannya. “ Hei...ada apa denganmu. Aku gak papa“ balas Hafiz.
“ Aku gak akan maafin loe kalau sampai loe kayak gini lagi.“ Ujarnya ketus.

Saat demikian dokter datang dan berkata waktunya minum obat. Namun, Hafiz tak langsung meminumnya hingga dokter itu keluar.
“ Boleh minta tolong. Tolong buangkan obat ini ke tong sampah“
“ Dibuang?” Rinda bingung obat yang ada di tangannya hendak dibuang. “Eh....loe harus minum ini obat biar loe cepat sembuh“
“ Gue Cuma luka kecil. Gak perlu minum obat.“ Sebenarnya bukan itu alasannya tapi karena ia takut makan obat.
“ Gak bisa. Loe harus minum sekarang.“ Rinda memberikannya pada Hafiz.
“ Enggak Rin, Gue gak mau“ Rinda memaksa memasukkan obat ke mulut Hafiz. karena Hafiz gak suka.
“ Emang siapa sih loe maksa gue minum obat?“ teriak Hafiz marah.
“ BUKK.....“ untuk kedua kalikannya Rinda menumbuk

wajah Hafiz.“ Ini sebagai tanda terima kasih gue karena loe udah nolong gue. Maka dari itu loe harus sembuh.“
“Gila ni cewek, bisa habis gue kalau di pukul terus – terusan. Gak tau apa rasanya sakit. Lagi pula gue kan lagi sakit.” Ujar Hafiz dalam hati.
“ Rasanya pahit Rin, gue gak suka. jangan paksa gue” ujar Hafiz akhirnya mengakui kelemahannya.
“ Loe bisa minum madukan usai makan obat?”
“ Tapi.....“ pembicaraan Hafiz langsung terhenti karena obatnya langsung dimasukkan semuanya ke mulutnya. Hendak dimuntahkan, Rinda langsung menuangkan minuman kemulutnya. Dalam sekejap obat itu habis.
“ Madu.....madu....!“ jerit Hafiz.
“......“ Rinda malah tertawa melihat tingkah Hafiz kayak anak – anak.“ Gak ada madu. Ini supaya loe biasa makan obat.“ Balas Rinda langsung pergi.

Hafiz langsung menahan tangan Rinda hingga ia terhenti. Kemudian ia menariknya hingga jatuh ke badannya.“ Mau kemana?“
“ Apa – apaan sih?“ tawanya hilang, kini ia yang marah.
“ Gue... ambilkan madu atau bibir loe yang jadi madunya.“
“ Lepasin…….” Menarik paksa tangannya hingga lepas. Kemudian tanpa berkata apa – apa langsung keluar dari kamar rawat Hafiz.
Ketika Rinda sudah tidak ada Hafiz baru sadar apa yang dilakukannya tadi tidak seperti biasanya. Ada apa dengan Hafiz, kenapa ia menurut pada Rinda yang jelas – jelas bukan siapa – siapanya. Aneh....!

Saat berada di sekolah, kini masih belajar namun kepala Rinda mendadak sakit. Kemudian ia permisi ke ruang UKS. Sambil melangkah kepalanya berat banget. Tak sadar badannya jatuh, untung ditahan seseorang. Namun, Rinda tak jelas orang itu siapa. Ketika ia sadar, di hadapannya sudah ada beberapa anak petugas UKS dan guru. Tak tinggal Hafiz.
“ Syukurlah kamu sudah sadar.“ Ujar guru itu.
“ Kepala saya pusing buk“ ujar Rinda. Ia kemudian diberi minum.
“ Perut kamu kosong makanya kamu masuk angin. Tadi pak Hafiz yang membawa kamu ke UKS. Berterima kasihlah pada bapak ini.“
“ Buk, kepala saya masih sakit. Apa ada obat?” Rinda mengalihkan pembicaraan.
“ sebentar ya diambilkan” jawab bu guru.
“ Karena Rinda sudah sadar saya pamit dulu bu“ ujar Hafiz.
“ Ya.... silahkan pak“
Seminggu kemudian...........

Tasya mendatangi tempat duduk Rinda. Ia ingin mengajak Rinda ke pesta ulang tahun Boy. Namun, dengan cepat Rinda menolaknya.
“ Eh udah bagus ya gue ngajak loe ke pesta Boy. Jangan sok mahal deh loe ama gue.”
“ Eh loe budek ya. Guekan udah bilang gak mau. Ngotot banget sih loe.“ Rinda langsung keluar.
“ Mau kemana loe?“ Tasya menarik rambut Rinda yang panjang.
“ Akh…….” Teriak Rinda kesakitan. Tentu Rinda tak terima ia langsung membalas menjambak rambut Tasya. Alhasil mereka jadi masuk BP karena buat keributan di kelas. Akhirnya ia mendapat peringatan dari kepala sekolah untuk ke 3 kalikannya.
“ Kepada seluruh murid di wajibkan untuk menghadiri pesta ulang tahun kepala sekolah di Hotel Indah. Acaranya akan di langsungkan dalam belayar selama 3 hari 3 malam di kapal.“ Pengumuman ini membuat seluruh murid semangat 45 menghadiri acara itu. Bagi yang tidak datang akan dikenakan saksi sebab dianggap menghina kepala sekolah. Aneh sih dengar peraturan itu, Cuma mau gimana lagi.

Ketika acaranya dimulai setelah di absen ada beberapa murid yang tidak hadir berbagai alasan. Parahnya Rinda tidak hadir tanpa keterangan apapun.
“ Katakan pada Rinda kalau sampai di kapal ia juga tidak datang, maka dengan terpaksa ia saya skor selama sebulan. Dan kamu juga akan punya urusan dengan saya.“ ujar kepala sekolah pada guru BP.
“ Saya akan usahankan pak.“ Balas beliau.
Hafiz yang mendengarnya jadi merasa kasihan kepada guru BP itu. Guru itu bisa dikeluarkan hanya karena masalah sepele kayak gini. Ia langsung keluar dari gedung Hotel itu.

Rinda dengan santai membuka pintu karena ada tamu. Tapi, herannya dia ketika tahu ternyata Hafiz yang datang ke rumahnya malam – malam Begini. Ia lalu mempersilahkan Hafiz duduk di kursi yang berada di teras rumahnya.
“ Aku gak menganggu kamukan?“ tanya Hafiz basa – basi.
“ Sedikit mengganggu. Kenapa loe tiba – tiba datang ke rumah gue?“ balas Rinda jutek. Tak ada bedanya di sekolah dengan di rumah.
“ Hari ini pak kepala sekolah memberi saksi pada guru Bpmu karena kamu tidak hadir di ulang tahunnya. Kenapa?“
“ Gue gak tertarik yang mananya ulang tahun. Kalau tidak ada lagi sebaiknya loe pulang karena gue mau istirahat.“ Rinda berdiri bersiap – siap hendak masuk.
“ Bapak Budi ( guru BP) akan dikeluarkan kalau kamu tidak datang ke kapal besok.“
“ Eh...loe fikir gue peduli apa. Gak alasannya gara – gara murid tidak hadir guru dipecat.”
“ Aku rasa kamu lebih mengenal kepala sekolah ketimbang saya. Saya menyampaikan ini supaya kamu ada sedikit rasa kasihan kepada beliau. Kamu bisa bayangkan gimana kalau sampai ia dikeluarkan dari kerjaannya. Lalu bagaimana dengan anak dan istrinya.“
“ Kerjaan gue banyak gak cuma itu aja. Gue tetap gakkan datang, camkan itu“ Rinda kemudian masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya.

Sebelum Hafiz pulang, di pagar ia berjumpa dengan Ayahnya Rinda. Beliau kemudian mengajak Hafiz masuk ke dalam rumahnya. Berbeda dengan Rinda, orang tuanya sangat ramah dan sopan padanya. Tak berapa lama kemudian Hafiz mohon diri. Ayahnya lalu menemui Rinda di kamarnya.
“ Kenapa kamu tidak mau datang ke acara kepala sekolahmu?“ tanya papa
“ Pa, Rinda rasa papa juga tau alasannya“ balas Rinda.
“ Rinda....! papa gak akan maksa kamu untuk hadir ke pesta itu. Namun, papa cuma pengen kamu tau Pak Budi akan menderita kalau sampai ia dipecat. Istrinya...akan sedih kalau anak – anak tidak lagi mendapat pasilitas seperti sebelumnya bahkan untuk sekolah anak – anaknya pun akan terancam. Pikirkan Rinda perasaan anak – anaknya....“ ujar ayahnya kemudian beliau keluar. Sungguh ini pilihan sulit buat Rinda. Ia benar – benar bingung.

Esoknya di kapal semua murid sudah bersiap – siap untuk berangkat. Absen nama dimulai.
“ Gue yakin habislah pak Budi kali ini.“ Ujar Boy senang. Siapa yang tak tahu kalau Rinda gak bakalan datang.

Hafiz pun khawatir kalau sampai Rinda gak datang. Dari tadi ia terus berdiri di pinggir kapal sambil melihat – lihat ke arah pintu masuk. Tasya dengan bangganya ikut acara ini. Paling tidak ia mempunyai banyak kesempatan untuk berduaan dengan Hafiz.
“ Rinda datang!!!“ Teriak anak – anak pada heboh.
Hafiz langsung melihat ke pintu dan benar ia benar – benar datang. Namun, ada sedikit keanehan, dari wajahnya kelihatan ada kejanggalan. Kejadian itu tak lama sebab ia sudah masuk ke dalam kapal. Rinda memasuki ruangan yang merupakan kamarnya selama di kapal nantinya.

Seharian ia tidak keluar dari kamarnya sampai – sampai dikunjungi salah satu murid untuk mengajaknya keluar mengikuti peraturan – peraturan yang akan disampaikan kepala sekolah. Dengan terpaksa ia keluar juga. Sampai di ruangan yang luar itu, semua teman – temannya pada memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“ Ok. Saya mulai aja pengumunannya karena kalian sudah pada kumpul semua. Entar malam diwajibkan semua murid untuk memberikan sebuah pertunjukan di hari ulang tahun saya berupa hadiah untuk saya ...bla…..bla…..bla……” begitu panjang ceritanya sehingga bosan menunggunya.
Usai pengumuman, semua murid bubar kembali ke aktivitas masing – masing. Hafiz langsung menghalangi langkah Rinda ketika hendak menuju ke kamarnya. “ Bisa kita bicara?“ tanya Hafiz.
“ Tidak bisa. Gue masih ada kerjaan“ langsung masuk.

Hafiz dengan nekadnya memegang tangan Rinda. Kaget Rinda di buatnya. Dengan cepat ia menarik tangannya. Namun, Hafiz tidak melepaskannya.
“ Eh.... jangan loe fikir loe bisa seenaknya ngatur – ngatur gue mentang – mentang loe pelatih di sini ya“ .
“ Loe jangan lupa, gue juga seperti guru loe di sini walau gue Cuma pelatih anak – anak.“ Ujar Hafiz tegas.
“ Loe bukan guru gue, jadi jangan bersikaf seperti guru sama gue. Oh.... gue lupa, loe aktor yang suka cari muka itu ya?“ sindir Rinda mengejek. Ia terus menarik tangannya dari genggaman Hafiz yang tak lepas – lepas. Tak membalas kata – kata Rinda, namun ia langsung menarik Rinda masuk keruangan Rinda lalu mengunci pintunya.
“ Apa ini sikap seorang pembimbing dengan lancang masuk ke kamar murid cewek.“ Bentak Rinda dengan paksa menarik tangannya hingga lepas.
“ Loe lupa gue bukan guru loe. Sekarang kita berdua di ruangan yang sama. Bisa kita bicara?“ tanya Hafiz yang masih berdiri dihadapan Rinda yang tak bisa bergerak gara – gara Hafiz menantang tatapan matanya.
“ Katakan!“ ujar Rinda buang muka.
“ Gue Cuma pengen ngucapin makasih ama loe karena udah mau datang. Itu artinya loe masih mikirin perasaan guru loe.“ Ujarnya santai.
“ Gue datang karna………” pembicaraan Rinda langsung dipotong hafiz
“ Gue gak butuh alasan loe. Karena gue Cuma mau bilang itu.” Kemudian Hafiz beranjak dari Rinda dan membuka kunci pintu.
“ Loe udah berbuat kurang ajar ama gue. Dan harus loe tau gue....gak akan keluar nanti malam“ Hafiz langsung keluar tanpa mengomentari kata – kata Rinda. “ Brengsek....!“ jerit Rinda. Ia merasa direndahkan diperlakukan seperti tadi. “ Dia fikir dia sapa pegang – pegang gue.“
Malamnya........

Tepat jam 7, Hafiz tak menemui Rinda. Ini akan bermasalah besar pada Pak Budi. Ia langsung pergi ke ruangan Rinda. Namun di tengah perjalanannya ia berjumpa Tasya.
“ Pak mau kemana? Bukannya acaranya udah di mulai!“ Tanya tasya yang sudah berpenampilan abis. Kebetulan jumpa di sini, langsung bisa bicara berdua tanpa gangguan orang lain.
“ ya… kelihatannya kamu udah siap. Kamu cantik malam ini” balas Hafiz sejenak. Ini supaya Tasya tidak tersinggung.
“ Kalau gitu....yuk pak kita sama – sama ke sana.“
“ O....Maaf Tasya. Saya masih ada urusan penting yang harus saya selesaikan. Kamu duluan aja entar saya nyusul. Udah dulu ya” Hafiz langsung pergi.
“ Ada urusan apa sih. Inikan bukan tujuan ke ruangan Pak Hafiz. Jangan – jangan ada sesuatu hal yang rahasia.“ Diam – diam Tasya mengikuti langkahnya.
“ Rinda......open the door!“ ujar Hafiz menunggu di pintu Rinda. Tak berapa lama Rinda membukakan pintunya karena sudah sekian kali Hafiz mengetuk pintunya. Ia melihat Hafiz sudah rapi dengan jas hitam yang ia kenakan. Tentu aja ia kelihatan lebih tampan dari biasanya. Namun, ini takkan merubah keputusan Rinda. Ia kemudian berdiri tegak tepat dihadapan Hafiz dan berkata “ Sebaiknya loe pergi. Karena percuma loe di sini lama – lama. Gue gak akan ikut.“
“ Loe harus ikut demi kebaikan Pak Budi.“
“ Loe gak bisa maksa gue.”

Hafiz menerebos masuk ke dalam tak perduli dengan larangan Rinda “ Sekarang buruan loe ganti baju, gue tunggu di sini“ ia duduk di tempat tidurnya.
“ Gue minta loe keluar dari kamar gue sebelum gue teriakin ada maling.”
“ Loe mau ngancam gue. Gini aja kita bertarung kalau gue menang loe harus ikut sama gue jadi pasangan gue… oh ya, gue lupa loekan gak bisa bela diri.”
“ Ok, gue trima tantangan loe. Tapi kalau gue menang, gue minta sama loe jangan lagi berdiri di hadapan gue.”
“ Ok”

Awalnya, Rinda membuat ancang – ancangan. Diluar info Hafiz Rinda sudah mengikuti bela diri sejak SD. Namun ia hentikan ketika meninggal orang tuanya. Saat Rinda mengeluarkan pukulannya, hafiz dengan cepat mengelak. Ia hapal banget gerakan itu , Hafiz membalasnya dengan sebuah rangkulan di bahu Rinda. Rinda langsung menyingkirkan tangan Hafiz hingga mereka berjauhan.
“ Gerakanmu boleh juga.“ Komentar Hafiz.
“ Kenapa? Loe takut?“
“ Sangat takut.“ Hafiz langsung menyerang. Entah bagaimana caranya hafiz bila melipat kedua tangan Rinda dibelakang badannya Rinda.
“ Aukk....“ teriak Rinda kesakitan.
“ Sekarang bagaimana?“ tanya Hafiz.
“ Loe menang“ ujar Rinda. Hafiz langsung melepaskannya.

Di luar Tasya cemburunya minta ampun. Apa lagi saat mereka bedua di kamar entah apa yang dilakukan mereka ia tidak tahu. Tak berapa lama mereka keluar dengan bergandengan tangan. Ia tambah gila cemburunya. Gimana bisa Rinda secantik itu, bersama Hafiz lagi.
“ Gue lakuin ini karena terpaksa. Loe ingat itu.“
“ Gue gak minta komentar loe“

Sampai di pesta itu, muka Rinda berubah jadi merah padam. Perasaannya jadi tak tenang ketika dengan suasana pesta. Ia kemudian ingat akan pestanya setahun yang membuat ia dapat kabar orang tuanya meninggal.
“ Pergi bawa gue dari sini.Please………!” ujar Rinda berat karena menahan tangisnya.
Hafiz sempat kaget juga, ada apa dengan Rinda. Namun, ia langsung membawa Rinda keluar dari ruangan itu. Sampai di luar, langsung Rinda menangis sejadi – jadinya. Hafiz membiarkan Rinda menangis sepuasnya walau dalam hatinya telah tersimpan seribu tanya kenapa?

Lama kemudian.......hujan turun namun Rinda tidak juga pergi dari bibir pagar kapal itu. Walau tinggal isak tangisnya masih ada, ia belum juga buka suara. Hafiz tak sabar juga, ia khawatir Rinda jatuh sakit karena kena hujan malam. Ia lalu mendekati Rinda.
“ Ayo…. Masuk.”
“ Pergi loe. Biarin gue sendiri. Loe sekarang udah puaskan buat gue kayak gini.” Teriak Rinda kasar dan kini tangisnya tambah.
“ Apa maksud loe..gue gak ngelakuin apa – apa ke loe“ bantah Hafiz.
“ Apa loe bilang...??“ sesaat Rinda diam menghela air matanya yang kini telah bercampur dengan air mata.“ Loe sengajakan ngingatin gue ama kematian mama gue.“
“ Apa?“
“ Jangan pura – pura gak tau. Loe udah taukan dari papa gue. Perlu gue ulangin lagi kalau gue yang buat mama gue meninggal. Biar loe puas ketawain gue. Gue udah tau sejak awal loe dekatin gue, sok perhatin. Tapi dibelakang loe ketawain gue……”

Jadi ini masalahnya yang buat ia benci sama Ulang Tahun. Papanya hanya mengatakan bahwa Rinda sangat membenci yang namanya Ulang Tahun karena suatu sebab. Awalnya emang Hafiz penasaran bagaimana reaksi Rinda ketika berada di pesta. Namun, ia tidak menginginkan hal seperti ini.
“ kenapa loe diam?” Tanya Rinda. “ bingung gimana gue tau semua isi hati loe?” tiba – tiba tangis Rinda berhenti karena baru sadar dari tadi teman – temannya sudah mendengarkan teriak – teriakannya yang ia tujukan pada Hafiz. Hafiz pun kaget ketika tau Semua temannya sudah berada di belakang mereka.
“ Sekarang loe bener – bener puas berhasil ngerjain gue“ ujar Rinda pelan. Hanya Hafiz yang dengar karena Hafiz berdiri di sampingnya. Air matanya kini telah habis tak keluar lagi.
“ Apa yang kalian lakukan di sini?“ tanya kepala sekolah dengan curiga.
“ Apa yang kami lakukan saya rasa Bapak tahu tanpa saya katakan“ balas Hafiz dengan lancar.
“ Yah Bapak... Kenapa dipotong. Kitakan pengen tahu gimana kelanjutannya.“ Ujar anak – anak.
“ Benarkah. Baiklah, lanjutkan!“ ujar kepsek.
“ Kalian fikir ini cerita sinetron?“ protes Rinda pada anak – anak.
“ Rin, Pak Hafizkan belum jawab tentang apa yang kamu tuduhkan padanya.“ Ujar guru Bahasa Indonesia si tukang usil urusan muridnya.

Rinda mengalihkan pandangan ke Hafiz yang terdiam. “ Jadi loe mau mengelak dari kenyataan?“ tanya Rinda lagi ia masuk dalam permainan Hafiz.
“ Loe salah. Gue sama sekali gak tau tentang kematian Ibu loe. Dan gue gak minta loe menangis di depan orang – orang seolah – olah gue yang paksa loe.”
“ ………….” Dalam hati Rinda benar – benar gak percaya Hafiz sanggup bicara seperti.
“ Gue pengen membuat loe bisa kembali seperti yang dulu, yang selalu perduli pada orang lain, ceria saat bersama teman – teman loe………….”
“ Cukup! Sejak kapan loe mata – matai gue?”
“ Tak semua yang kita fikirkan itu selalu tahu waktunya kapan kita melakukannya.” Balas Hafiz pa
“ Gak usah loe banyak ngomong!”
“ Rinda,! dia gurumu. Bagaimana pun juga dia bukan sebayamu.” Ujar kepsek yang mendengar kata – kata Rinda pada Hafiz.
“ Gue gak pernah punya guru yang berani kurang ajar ama anak didiknya.“
“ sekarang gini aja. Kita bukan berada di sekolah, anggap aja kita dua orang yang tidak saling kenal. Gue akan buktikan sama loe kalau gue seorang pecundang. Sekarang katakan apa yang harus gue lakukan untuk buktikan kalau gue gak bersalah.“
“ Ok... Gue mau loe terjun ke sungai. Apa loe berani?“ Rinda berkata demikian sebab ia yakin bagaimana pun hebatnya seseorang tidak akan berani terjun ke sungai sedalam itu.
“........“ Hafiz melihat ke bawah. Ini benar – benar gila.
“ Udahlah, gue udah tau loe gak akan ngelakuinnya.“ Lalu mendekati Hafiz. “ Loe fikir gue bodah“
“ Gue bakal ngelakuinnya. Tapi, gue ada syarat.”
“ Oh ya, gue jamin gue akan ngelakuin apa pun mau loe kalau loe berhasil ngelakuinnya.”
“ Kalau gue berhasil, loe harus mau kissing ama gue di hadapan semua orang yang ada di sini.” Ujar Hafiz menantang Rinda.
Rinda terdiam mendengarnya. Kenapa sekarang malah dia yang dirugikan. Sial...Tapi kemungkinan besar Rinda yang menang. “ Gue terima syarat loe“

Ini adalah peristiwa yang besar dalam sekolah. Namun banyak anak – anak berharaf Hafiz gagal sebab semua orang tau siapa sih yang nolak tawaran Hafiz. Semua berkumpul di pinggir kapal melihat Hafiz bersiap – siap untuk terjun ke sungai.
“ Pak, Bapak gak perlu terjun ka sana hanya karena untuk kissing ama dia. Saya juga mau kasih tanpa ngelakuin apa – apa.“ Ujar Tasya menggoda pada Hafiz.
“ Aku terlanjur buat kesepakatan dengan Rinda. Maaf ya“

Syaratnya, selama 15 menit Hafiz harus berendam di bawah. Bila gagal ia akan dinyatakan salah. Ketika masuk, semua orang was – was takut akan Hafiz tenggelam. Namun syukurnya ia tidak apa – apa. Berlangsung 10 menit sudah, namun Hafiz kelihatan amat kedinginan. Ia terus bertahan hingga 15 menit berlangsung. Semua orang – orang pada sibuk membantunya naik ke kapal. Ia langsung diberi selimut dan diberi air teh hangat untuk mengembalikan suhu tubuhnya.
“ Hafiz...! loe gak papa kan?“ Tasya langsung menerobos Hafiz memeluknya. Orang – orang pada kaget melihatnya. Tak disangka, Tasya langsung kissing Hafiz.
“ Apa – apaan kamu?“ Hafiz langsung mendorong tubuh Tasya darinya.
“ Fiz, gue tuh khawatir ama loe...“ ujar Tasya sederhana perasaannya juga senang sebab berhail mencium Hafiz.
“ Dasar cewek gatal…” anak – anak berkomentar.
“ Eh… loe gak sadar ya. Yang harusnya ngelakuin itu Rinda bukan loe. Gimana sih?” bantah yang satu lagi.

Hafiz melihat reaksi Rinda yang santai amat. Ia tetap berdiri di pinggir kapal memandangnya terus. ketika ia melangkah mendekati Hafiz, semua teman – temannya memberi jalan untuknya. Hafiz berdiri ketika Rinda sudah berdiri di hadapannya.
“ Gue akui loe emang hebat. Selamat!!”
“ Gue cuma pengen tunjukin ke loe, kalau gue gak salah.”
“ So... Gue rasa Tasya udah berikan hadiah yang loe ajukan tadi, gue rasa gue gak perlu lagi kissing with you.“
“ Perjanjian tetap perjanjian. Tasya gak ada dalam perjanjian“ sesaat Rinda terdiam karena ia bingung bilang apa untuk menghindari kesepakatan itu” Atau loe yang takut karena gak pernah” ujar Hafiz lagi.
“ Loe ngejek gue?” Rinda tersinggung.
“ Kenapa harus marah. Sekarang gini, kalau loe masih pengen di bilang orang yang jujur. Sekarang buktikan ke gue!“ Hafiz menantang Rinda.
“ It’s ok. Tapi mulai sekarang gue gak akan lupa atas kurang ajarnya loe ke gue.“ Ujar Rinda.

Kelihatan dari wajahnya Hafiz senang mendengarnya. Ia kemudian melangkah beberapa langkah lebih dekat pada Rinda. Lalu berlahan ia merangkul pinggang Rinda hingga merapat ke tubuhnya.
“ Asal loe tau, gue ngelakuin ini karena gue terlanjur cinta ama loe.“ Bisiknya di wajah Rinda. Kaget juga Rinda mendengarnya. Namun, kediaman itu tak berlangsung lama karena Hafiz langsung mendekati wajah Rinda dan menciumnya. Teman – temannya pada melongo meihat pemandangan langka itu.
“ Ini tidak mungkin“ ujar Tasya tidak terima. Namun kalau sudah terjadi apa mau dikata.
“ Romantis!“ ujar salah satu guru tersanjung melihatnya.
Sebelum Hafiz lebih lama lagi, Rinda langsung mendorongnya, tak tinggal dengan senyumnya ia menatap Rinda. Mendadak ada kabar Tasya pingsan di kamarnya karena mencoba bunuh diri. Semuanya jadi sibuk melihat ke kamar Tasya.
Ini sungguh kutukan buat Rinda. Ia merasa Tasya bunuh diri karena Rinda datang ke pesta ini. Langsung saja ia lari ke kamarnya. Akhirnya pesta ini disudahi karena Tasya harus cepat dibawa ke Rumah Sakit. Usai beres – beres barang, Hafiz keluar dari ruangannya tak sengaja ia juga melihat Rinda berjalan menuju tangga keluar kapal. Ia tampak santai dan menganggap gak ada masalah. Padahal dalam hati Rinda ia sangat khawatir dengan keadaan Tasya.

Siang ini ia berniat pergi ke Rumah Sakit menjenguk Tasya. Ketika ia ke toko bunga, ia juga berjumpa dengan Hafiz yang sedang membeli bunga juga. Ketika pembayaran Hafiz menyapanya.
“ Mau jenguk Tasya ya?“ sapanya
“ Ya.....“ balasnya jutek.
“ Gue juga mau ke sana. Gimana kalau kita sama – sama ke sana.”
“ Gak usah. Gue gak mau Tasya bunuh diri untuk kedua kalinya gara – gara lihat kita berdua.”
“ Dia bunuh diri karena keinginannya bukan cemburu karena lihat kita berduaan.”
“ Loe gak ngerti juga ya orang lain perhatian ama loe. Seharusnya loe itu bisa lihat kesungguhan Tasya suka ama loe.”
“ Gak bisa karena gue udah tempatin hati gue sama seseorang.”
“…………” Rinda terdiam mendengarnya,, apa ini menyindirnya.
“ Sayangnya orang itu yang belum memahami perasaan gue. Mungkin kalau gue gak ada, baru ia tau kalau gue sangat sayang ama dia.” Hafiz memandang Rinda tanpa henti. Rinda langsung mengalihkan pandangan, ia kemudian berkata “ Aku harus pergi“
“ Kalau memang kita gak ada hubungan apa – apa, kenapa kamu takut untuk berangkat sama - sama?“
“ .............“ Rinda langsung pergi.

Sampai di rumah sakit, Rinda langsung ke ruangan Tasya. Gak taunya Tasya ramah banget ama dia diluar perkiraan Rinda.
“ Thanks ya udah mau jenguk aku. Kenapa gak sama kak Hafiz? Aku dengar dia juga mau datang”
“ Aku gak tau dia mau ke sini“ pura – pura Rinda.
“ Kamu beruntung ya dicintai sama kak Hafiz. kamu tau gak, setiap hari tuh yang ada dia nanyai kamu terus kalau kita latihan. Sampe anak – anak bosan dengarnya.“
“ Mungkin aja dia punya maksud jahat ama gue“
“ Kamu salah. Kamu ingat gak waktu kamu gak datang ulang tahun gue. Dia gelisah banget kamu gak datang, karena dia berharaf banget lihat kamu hadir setiap ada acara.“

Sesaat Tasya menghentikan ceritanya. “ aku pernah diam – diam baca buku hariannya, dia bilang dia cinta ama kamu.“
“ kenapa kamu ngomongin ini semua ke gue?“
“ Supaya loe tau gimana perasaan kak Hafiz ke loe. Gue kasihan ama dia yang terus – terusan memendam perasaannya. Lagian gue sadar cinta itu gak bisa dipaksakan” .
“ Tapi, cinta loe harus diperjuangkan”
“ Gak Rin, Gue tau banget kak Hafiz sayang ama loe. Gue gak mau ganggu hubungan kalian. Jangan kecewakan dia Rin, dia pria yang baik.”
“ Aku …………bingung.” Sesaat ia terdiam.
“ Seminggu lagi ia ulang tahun. Kalau kamu emang cinta ama dia, datanglah ke Pantai Santai. Di sana ia ngerayain ultanya…”
“ Kenapa bukan dia aja yang langsung bilang ke gue?“
“ Dia takut kamu gak datang. Please Rin! pertimbangkan baik – baik keputusan kamu!“
“ Kayaknya udah sore, aku pulang dulu ya!. Kamu cepat sembuh ya!”
“ Makasih ya!“

Rinda bingung kepada dirinya. Kenapa ia terus gelisah terus usai pulang dari Rumah Sakit. Hendak menutupkan matapun ia sulit.
“ Aku benci ulang tahun.....aku benci“ teriak Rinda dalam hatinya.

Kenapa harus di ulang tahun Rinda buktikan perasaannya pada Hafiz. Dia akui memang ia suka sama Hafiz atas perjuangan yang selama ini dilakukannya. Rasanya berendam di sungai tengah malam seperti masuk ke lemari es, melawan brandal hanya karena cewek yang selalu menjauhinya. Tapi, ia takut akan terjadi sesuatu kalau ia datang ke acara itu.
“ Rinda..... kelihatannya kamu lagi ada masalah?“ tanya papanya yang melihat Rinda dari tadi mondar mandir di depan papanya.
“ Pa, Rinda ada undangan dari Hafiz minggu depan. Dia berharaf banget Rinda datang. Cuma Rinda belum berani pa“
“ Jadi ceritanya udah jatuh cinta nih.....“
“ Papa…! Rinda lagi bingung nih”
“ Ok.. Ok ..Semua yang kita lakukan itu harus diiringi dengan semangat. Kamu sekarang sedang diselimuti ketakutan, jadi kamu harus lawan yang namanya takut.“
“ Kalau terjadi sesuatu gimana?“
“ Itu karena kehendak Allah bukan karena kehadiran kamu. Kamu harus tanamkan itu dalam hati kamu.“
“ Rinda....“ tiba- tiba air matanya mengalir. Papanya jadi bingung. Ia langsung merangkul anaknya itu.
” Rinda kangen mama, Pa“
“ Papa juga kangen sama mama kamu. Dia pasti senang disana, kamu gak usah khawatir ya?“
“ Rinda pengen ziarah ke makam mama.“
“ Ia. Besok kita ke sana ya.“

Esok harinya, mereka berangkat ke pemakaman mamanya. Tak lupa berbagai bunga segar dibawa ke sana. Sampai di sana dia membacakan yasin dipersembahkan untuk mamanya. Ia juga menaburkan bunga dimakam mamanya.
“ Ya Allah... semoga mamaku di sana Engkau terima ya Allah. Aku janji gak akan takut lagi sama masa lalu Rinda.”
Ketika malam hari yang dinanti Hafiz tiba. Semua orang yang diundangnya pada berdatangan. Namun, Hafiz belum juga keluar, ia sibuk dengan penampilannya. Bagaimana pun juga ia harus kelihatan keren walau ia emang udah keren.

Tak berapa lama kemudian ia menemui tamu – tamunya. Ada yang sebayanya ada juga adik – adik ajarnya. Ia sibuk kesana kemari menyapa orang – orang sampai ia menabrak seseorang dibelakangnya.
“ Ya ampun………Sorry – sorry! Loe gak papa kan?” ujar Hafiz.
“ Gue gak papa kok. Oya... selamat ulang tahun ya?“ ujarnya mengulurkan tangan.
“ Rinda!!“ Hafiz kaget ternyata cewek yang bertabrakan dengannya Rinda, cewek yang dari tadi dinantinya. Ia sangat bahagia sampai ia langsung memeluk Rinda. Rinda hanya tersenyum walau orang – orang jadi memerhatikan mereka.
“ Untuk ulang tahun gue kali ini, gue dihadiahin cewek yang benar – benar spesial bagi gue. Terima kasih.“ Ujar Hafiz saat ia menyampaikan pesan – pesan.
“ Mungkin kamu melupakan Tasya, karena dia aku jadi sadar kalau kamu itu cinta ama gue. Thanks ya Tasya!“ Rinda tersenyum pada Tasya yang berada di sekitar teman – temannya. Tasya tersenyum manis padanya.


udara malam di luar pesantren

 Betapa banyak dari kalangan muda berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastis dalam capaian prestasi, hanya lantaran keteledoran, hanya karna ulah menyimpang yang mulanya hanya iseng iseng belaka, atau mental ‘nanti dulu’, atau sikap ‘sebentar dulu’.akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangat mulai redup. Gairah berkaryanya semakin kering. Akhirnya ia pun terhenti dari segala harapan yang telah menanti di ujung kerja kerasnya.

Malam Jumat itu seusai solat isya’ para santri asik ngobrolin sang kyai yang tak kunjung datang mengisi tausiah, banyak dari santri yang menduga tausiyah bakal dibatalin. Tentu aku dan kawan kawan bingugn apa yang muski dikerjain malam itu, mau tidur..,udah tadi siang di sekolah!, mau makan..,paling menunya gituan, kalo ngrumpi?,alah...... ngga’ usah disebutin jelas itu DOSA!. Kalo sudah begini bengong bareng deh!.

Sedang enak-enaknya bengong, tiba-tiba “DOARR” benturan pintu membuat kesunyian kamarku terpecah, ternyata setelah di telusuri Rio atau panggil saja O-lah penyebabnya.
“Asal kalian tahu!, udara bebas telah menanti kita, tunggu apa lagi mumpung Ustadz-Ustadz pada lenggah” teriak O layaknya Bung tomo.
“ Anta ga’ usah mimpi! Kalo ketahuan kita bisa jadi jama’ah botak.” Saut Tahta menolaknya.
“ Alah.... not effect lagipula cuman semalam!” bantah Afix mendukung O.
Setelah kedua kubu ini cukup lama bersitegang, akhirnya kubu dari O-lah yang memenangkanya, dengan berat hati akhirnya Rizki dan simpatisannya mau tidak mau harus menuruti O atas dasar kekompakan.

Tapi masih saja ada halangan dengan terbentuknya gerakan NonBlok yang beranggotakan Iqbal & Yovie, awalnya aku-pun termasuk dari mereka dengan setempel disiplin terukir di jidat ku, tetapi dibagian hatiku yang lain menggatakan akan timbul kedengkian yang bakal menimpaku, itulah sebabnya peraturan yang berdiri tegak di pondok ini terpaksa ku robohkan dengan dalih rumus phytagoras, loh ! ko’ phytagoras ?. Ya karena rumus phytagoras berlaku untuk segitiga siku-siku, bunyi rumus phytagoras adalah panjang sisi miring kuadrat sama dengan jumlah kuadrat dari panjang sisi yang lain. atau secara matematis ditulis C² = B² + A² maka dapat disimpulkan bahwa, antara O sebagai C², Rizki sebagai B²,dan Aku sebagai A² masing-masing memiliki posisi yang saling berkaitan walaupun memiliki sifat variabel yang berbeda mereka mampu membentuk sebuah bangun segitiga siku-siku atau yang kita sebut sebagai kekompakan.
” ujar Affan yang ketika itu menjabat sebagai atasan kami. كيف يمكننا الخروج من هنا دون علم الأستاذ"
“ta’ usah kawatir kita gunakan saja jamur sebagai tameng” seru Ady dengan bangga.
“maklut so...?” kata yang dilontarkan kawan-kawanku usai mendengar ucapan Ady.
“gini lo..awalan, kita sibukan para Ustadz dengan keberadaan Iqbal & Yovie, bila para Ustadz terlena dan gerbang masih terbuka lebar kita bisa segera keluar dari sini” jelas Ady mirip Adolf hitler ketua Nazi pas nyusun strategi penyerangan inggris.

Malam itu juga sesuai komando, rencana itu betul-betul kami kerjakan. Satu persatu para santri kabur dari pondok. Kami dengan mudah bisa lolos dari sepengetahuan Ustadz dan itu bukan karena Iqbal & Yovie yang berhasil melemahkan penjagaan para Ustadz ,akan tetapi memang Ustadznya yang lemah.
Kabur dari pondok bukan soal seberapa ketat penjagaan atau kawat berduri yang menghalangi melainkan ini soal seberapa kuatnya pagar nafsu yang dimiliki para santri. Meski sehebat apapun penjagaannya kalo pagar nafsunya rusak akan tetap saja mudah dibobol. Kitab Ta’limul muta’alim yang sering kami kaji tak begitu berdampak pada kami, sehingga 14 bab yang terdapat di dalam kitab ini (istilah kitabnya, fashl) yang membahas tentang metode belajar, keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan serta memuliakan ilmu dan ulama, yang sesungguhnya berfungsi sebagai reparasi pagar nafsu malah hanya dijadikan para santri moderen semacam kami sebagai syarat terhindar dari jeweran ustadz Ladun selebihnya hanya Allah dan masing-masing diri mereka yang tahu.

Kami telah keluar dari tempat kami menuntut ilmu. Yang biasanya sarung dan gamis menyelimuti kini jins dan jemper membuat kami Jauh dari kata santri. Bulan terus fokus melihat langkah kami, berbeda dengan orang tua kami yang tertidur pulas tanpa mereka ketahui kalau anak-anaknya ternyata telah menghianati kepercayaan mereka. meski Rizka dan kawan-kawa telah meyakinkanku, Hatiku tetap kebat kebit. Soalnya ini pertama kali aku membolos.
Alun alun, ya! Disanalah kami nanti singgah, berkumpul dengan banyak lapisan masyarakat. Tak perduli mau konglomerat, miskin, kafir, mukmin yang taat bahkan yang munafik-pun ada disana.
Kami terus menyusuri kota yang kami sebut kota labirin karena sekian banyak jalan yang kami lalui tersekat oleh dinding-dindingnya yang menjulang tinggi. Dari jauh sudah terdengar ayat-ayat Allah terlantun begitu indah membahana ditengah kota, sementara yang mendengarkan bertentangan dengan apa yang telah didengar. Itu terbukti tatkala kami tiba di alun-alun, para pejantan dan betina bercumbu seolah mereka telah menantang Allah dengan menyalahi Q.S An nuur: 30-31. Tapi sayang, bagi calon-calon kyai seperti kami tak banyak yamg mempermasalahkan itu.

Rizka dan teman-temanya kemudian pergi kepusat pertokoan. Jalan-jalan muter-muter. Masuk ketoko mainan, nyobain jadi anaknya orang berduit. Juga liat-liat kaus-kaus yang sulit kami ditemukan di almari santri dan puncaknya, main dingdong! belasan logam koin dihabiskan untuk nyobain semua permainan. Makin sering kalah makin penasaran.
Menjelang pukul sembilan malam kami masih asik main, sampai-sampai gak tahu kalo sekelilingnya udah sepi. Tanpa duga, nongol Satpam ngusir –ngusir kami, ya udah nggak ada pilihan lain kami musti cepet keluar dari gedung itu dengan koin masih tergenggam di tangan.

Lagi asyik menikmati AC terahir di pintu utama gedung, di sebrang jalan raya tampak dari teman kami memangil-mangil mengisyaratkan agar kami segera menghampirinya, seolah-olah ada kejadian luar biasa telah terjadi.
“Rugi kalian ngelewatin kejadian yang tak kan ada dua kali, ada duel antar dua geng yang kedua duanya sama-sama punya kekuatan gaib, yang satu pakek jurus harimau, yang satunya lagi jurus pocong ya.. kayak ngilang gitu deh” jelas Alpin nyerocos.
Alpin baru bisa berhenti dari ocehanya ketika ia melihat dari balik pungung ku tampak seorang ibu yang menghampiri kami lantas menawarkan sisa roti ulta milik anaknya kepada kami dengan cuma cuma, ya.. meski udah ga’ utuh yang penting enak, gratis lagi ,he.he.he.
Belum sempat roti terbagi rata, kami kedatangan tamu yang kalau dinilai dari penampilanya sudah barang tentu bukan santri layaknya kami. kumal,semiran, dan aneh. Tapi yang lebih aneh disaat kami merasa terancam, ternyata ia hanya ingin mengajak kami bertanding sepakbola. Maka malam itu juga tepat pukul 11.30 WIB di bundaran Kudus terjadilah duel antara PERSIPON dengan JFC (jalanan football club) yang bakal disaksikan beribu-ribu kendaraan yang lalu lalang.

Lampu-lampu toko berangsur-angsur padam tanda bahwa malam semakin larut, tetapi pertandingan ini malah semakin seru, ketika banyak trik-trik menakjubkan yang ditampilkan mereka di hadapan kami seperti flick up, el elastico, lift ball, Marseille roulette , serta samba. Pemain kamipun berjatuhan dibuatnya.
Dari mulainya pertandingan, bola belum samasekali menyentuhku, hingga akhirnya ia menghampiriku dengan sendirinya, tapi sayang itu tak berdurasi lama, karna Tahta dengan semangat mengglora meminta bola itu agar segera diserahkan padanya. Dengan berat hati satu umpan amatir kuberikan pada Tahta, sang kapten, yang langsung menyundul bola dengan sisi kanan kepalanya. Namun, Keeper tak mau kalah, ia menepis bola kedalam lapangan pada waktu yang tepat. Tak sampai disitu saja Rifki pun ikut serta dalam perselisihan itu, ia melakukan chip volley tinggi diatas keeper yang terjatuh, dengan keras bola melesat melintasi tumpukan sendal-sendal gawang dan meningalkan area pertandingan, menciptakan gol sehingga kita memipin dengan sekor 5-3. Pada menit ke 80-an ‘ehh inget ngak ada intermission’ ,

Kapten JFC melakukan gerakan hell kick flick pada Huda yang seketika itu terkecoh, ia melakukan one two bersama temannya, dan ia melakukan tendangan volley rendah yang langsung menjebol gawang timku. Skor menjadi 5-4, karena pertandingan ini tak ber wasit dan tak diberi batas waktu, maka yang perlu di lakukan ialah mencetak angka sebanyak-banyaknya sampai ada di antara kami yang terkapar kecape’an. Tapi asal kalian tahu pertandingan itu usai bukan karna kami kecape’an melainkan ketika bola yang kami rebutkan terpental jauh melambung menghantam teravo lampu alun-alun dengan begitu kerasnya. Akibatnya lampu alun-alun mati dengan seketika! “ waduh!...., kabuuur....* woy ojo lali sandale,” “sandalku neng di? #%^ “ heh iku sandalku!”. Kami ketakutan bukan kepalang melebihi takut kami saat menghadapi Mbah Syem (direktur pondok) ngamuk.
Entah apa yang kami takuti, hingga harus merelakan sandal pada jebot. Padahal kabur dari pondok saja menjadi hal yang membanggakan, tapi mengapa hanya karna lampu alun-alun mati kami musti kayak maling lompat sana ngumpet sini. Kalo begini kesimpulannya berarti memang sudah tidak terbesit lagi sifat tanggung jawab di dada kami.

Langkah kami semakin melambat seiring semakin jauhnya alun-alun dari pandangan kami, tak selang beberapa lama sohabatku Afix tanpa beban memutuskan agar perjalanan ini dilanjutkan ke rental PS, padahal belum kering keringat di tubuh kami. Sekarang terbukti jika saiton itu memang tak akan pernah lelah bila sudah berurusan dengan misinya yakni menggoda manusia.
“Ana Muflis ni” ujar Khafidz memanja.
“Ya, lagi pula mata ku wis riyep riyep ki !” saut Daus sembari mengucek matanya.
“Menara ya’ !” yang lain menyauti.
Meski mereka tak bermaksud membela aturan pondok aku turut gembira ada dari kawanku yang tidak berminat menuju rental PS, andai insiden ini terjadi tentu akan menjadi pelanggaran pondok ke 2 bagi kami. Memang benar di dalam nas Al-Qur’an tak ada yang menerangkan keharamannya sehingga ini menjadi perkara kontemporer yang harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.
Meskipun yang berniat ke rental PS resesif tetap saja tak menyurutkan hasrat para pecandu PS hadir ke tempat terlarang itu. Kejadian ini menggambarkan hukum (–) x (+) = (–) keburukan yang walau didalamnya ada kebaikan hasilnya akan menjadi buruk. Solusinya kami yang (+) harus memisahkan diri dari yang (–), tak ada pilihan lain selain berpisah dari yang (–) agar tak ada yang terkontaminasi.

Kamipun memutuskan bermalam di masjid yang dibangun sunan jaffar shadiq, yang di sana banyak orang berbondong bondong minta-minta, ya.. minta di panjangin umurnya lah, dilulusin sekolahnya lah, dikayakan hartanya lah, bahkan minta dikasih receh pun ada alias pengemis he,he,he.. yang jelas mintanya selain kepada Allah SWT (musrik). Tapi ada juga yang tidak musrik ko’, ya.. kayak kita-kita ini ni, didikan ponpes Muhammadiyah dengan doktrin murni dari nabi Muhammad masak percaya ama hal yang khurofat kaya’ gitu mau dibawa kemana wajah KH. Ahmad Dahlan.
Kami terus menyusuri jalan beraspal yang tak kunjung dingin, padahal sesekali angin malam menerpa tubuh kecil kami. Terus melangkah dengan berharap masjid yang kami idamkan telah di depan mata, agar bola mata yang kian memerah ini segera tertutup rapat rapat.

Sampailah di bagian yang mengingatkanku akan sejarah perang diponegoro tepatnya tatkala rakyat pribumi bersatu dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati. Namun ini tidak ada sangkut pautnya dengn perebutan tanah, karna ini adalah kejadian yang bermula ketika kami telah berjalan jauh meningalkan komunitas PS tiba-tiba dari ujung jalan tampak segrombolan anak anak muda yang postur tubuhnya menggingatkan kami dengan para pecandu PS itu,
“Ya itu memang mereka, lihat saja ada yang sandalnya jebot itukan Huda” ujar Farizi sembari melenggak lenggokkan kepalanya.

Setelah dirasa opserfasi sudah cukup teliti, Azkipun angkat bicara
“Hei! Aku punya ide nih, gimana kalo perjumpaan ini kita bikin mirip kayak adegan tawuran!, kayak anak STM yang di tp-tp itu.tu... ”

Kami berlari dengan begitu menjiwai seolah menujkukan bahwa kami memang bakat dalam tawuran. Harap maklumlah, dipondokkan udah sering tawuran kalo ayam lauknya. Di sisi lain, para PS-man juga nampak ter Ilhami menanggapi sandiwara ini mereka berlari kencang menghampiri kami.
“heyaaaaaaaaa!!!” gemuruh suara kami.

Padahal kami tahu disekitar TKP banyak bapak-bapak lagi asik ngumpul main catur sambil ngemil kacang godok, e..malah gara-gara ulah kami, kacang godoknya ketuker ama pion, wak ka’ ka’ ka’.. Oops.
“E .e.e..... ka..mpul !” peki’ salah satu warga karena kecewa melihat kami enga’ jadi pukul-pukulan malah berlaga layaknya aktor Keanu Charles Reeves pas main di film Matrix meranin tokoh Neo.
Saat itu aku tak sempat berfikir jikalau notabenku adalah seorang santri 13 th, yang ada hanya perasaan gembira soalnya rental PS yang mereka tuju tutup, jadinya kami bisa pergi ke masjid sunan kudus bareng-bareng.
Tak kusangka kaki ini telah hadir di permukaan tanah menoro, debu yang sekian lama menumpuk di raut muka segera tersterilkan oleh air wudhu. Sebelum terpejam kami sempatkan mendirikan solat malam meski terkadang dengungan ahli dzikir sempat mengganggu.

Di keheningan malam -/+ jam tigaan, kenyamananku bermimpi mulai terusik saat kudengar suara aneh yang terus merambat ditelingaku *#^%*)(@!?>+! “Hiiiiii....,..” sepontan aku terprangah melihat tubuh O yang dibelai pemuda cantik bertingkah kemayu.
“Suts sutsO,O.bangun, ..bangun” kawan ku berusaha membangunkannya dengan suara lirih. Kami tak mampu berbuat banyak karna banci itu badanya kekar, tapi untunglah ada orang bawa’ gagang pell dengan suara lantangnya mengusir si banci tadi, seketika si banci kabur tergopoh gopoh sembari terdengar ia menggerutu.
“Nang ! omahmu ngendi ?”seru si tukang pell.
“ndha’an pak”balas O ngibul.
“bali kono Masjidte apek ano pengajian” serunya.
“Huh* untunglah O masi berjaka kalau ga’ jadi repot urusanya” sindir kawanku.
Ada yang mengganjal bagiku. Sebenarnya apa alasanya hingga banci barusan bisa dibuat kawanku O mabuk kepayang. E,,,Ternyata setelah ku infestigasi semua ini berawal dari ulah O tatkala beranjak ke rental PS ia menggoda si banci !. jadi sekarang sudah jelas,semua ini dikarenakan hukum kausalitas atau bisa di terangkan melalui perinsip archimedes "Jika suatu benda dicelupkan ke dalam sesuatu zat cair, maka benda itu akan mendapat tekanan keatas yang sama besarnya dengan beratnya zat cair yang terdesak oleh benda tersebut".
Dengan sesal bercampur rasa geli karena nasib O barusan, kami jadi kesulitan menentukan kemana lagi kita harus singgah, jikapun ke pondok, yang ada malah digrebek, masak ke alun-alun lagi, ya.. udah lah emang disana nasip kami berikutnya.
Kepergian kami disambut para santri salafi yang berdatangan memenuhi panggilan sang kyai, dengan ditemani kitab kuning yang tertempel di dadanya mereka siap mengabdi pada guru.

Entah apa yang membuat mereka berbeda dengan kami yang hanya bisa perotes dan mengkritik, jika di tela’ah dengan seksama mungkin santri modern memang takkan mungkin 100% percaya terhadap gurunya namun hal ini akan menciptakankan penyaluran ilmu yang dapat terevaluasi melalui dobrakan dobrakan yang dilakukan santri-santrinya tapi sayangnya hal ini berdampak pada mental ketawadhu’an mereka terhadap guru. Oleh karna itu mau santri salaf atau modern yang terpenting tawadhu’ dan tidak menjadi santri yang pasif /hanya menerima materi dari sang guru tanpa mengetahui kebenaranya.

Mata kering memerah, kaki mengeras, sekujur tubuh lengket oleh keringat terasa sedikit terobati ketika kami telah berhasil menaklukan medan yang jauh dan bisa berbaring pulas di teras masjid agung Kudus.
“tak tak tak tak taktak tak, dung.... dung.... dung dung dung dungdung dung...dung.......dung..,Allah.......................huak,barAllah........................huak,bar”, suara muazin yang mirip kaya’ Afgan itu menandakan subuh telah tiba. Meski sedikit malas-malasan karena ga’ ada pak Hasan ngopyai ,kami tetap menunaikan salat subuh dengan iman yang masih tersisa di hati.

Takbirotulikrom lalu membaca alfatihah + ayat-ayat dalam al qur’an kemudian ruku’ lalu iktidlal dan next, e.’.’.’. eladalah! kami tersungkur sujud tanpa tahu kalo ada do’a kunut, tanpa bosa-basi seketika layaknya video direplay kami kembali tegak. Meski di dalam salat kami sedikit malu dengan jama’ah lainya karna memperjuangkan karakter, kami tetap berusaha mengahiri salat itu dengan khusyuk.
Setelah menunaikan ritual ibadah yang jarang-jarang bisa ditemukan di masjid kami. Kami segera beranjak keluar kemudian duduk-duduk menikmati asap knalpot yang semakin mengusir udara subuh hanya untuk memperoleh mentari terbit dari balik gedung Ramayana.

Apakah ini yang disebut O sebagai kebebasan. Yang bisa keliling supermarket, sepakbola bareng anak jalanan dan main PS sampai-sampai harus dipeluk banci. Kalo memang benar itu kebebasan maka apa bedanya kita dengan gelandangan atau lebih extrimnya binatang yang baginya kebebasan berupa perbuatan tiada aturan. Padahal seasik apapun kebebasan takkan sedikitpun lepas dari resiko yang telah disiapkan oleh Allah. Lantas mungkinkah santri dengan mental macam kami kelak akan memperoleh cahayaNya, hanya do’a yang dapat ku panjatkan.
Ini hanya sekeping kisah pesantren yang masih terpatri dimemori setiap pelakunya adapun hikmah didalamnya itu tergantung dari hati yang merasakan.


DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/08/cerpen-remaja-islam-udara-malam-diluar.html#ixzz2B4dyBmKc

indah nya bersedekah


karya diza rendiza Saskia adalah gadis berumur 7thn, namun dia adalah gadis yang kurang beruntung. Orang tua mereka bermatapencaharian sebagai pekerja serabutan yang tidak mempunyai penghasilan yang tetap. Saskia duduk dibangku kelas I SD, dia anak yang baik, rajin, pintar, dan patuh serta selalu bersemangat untuk menuntut ilmu. Sepulang sekolah dia selalu mencari pekerjaan untuk membantu orang tuanya membayar biaya sekolah.
“Bu aku berangkat sekola dulu ya” suara mungilnya menghampiri ibunya yang sedang mengumpulkan cucian tetangga sembari tangan mungilnya itu mencium tangan ibunya.
“Iya, hati-hati ya Kia, belajarlah yang benar ya nak” jawab ibunya sembari mengelus kepala anaknya itu.
“Iya, pasti ibu !” ujar Saskia penuh dengan semangat.
Kaki kecilnya itu berjalan menyelusuri sawah yang becek dan sungai yang sedang surut airnya, sungguh besar perjuangan gadis kecil itu untuk menuju sekolahnya itu.
SDN Maju Jaya, adalah sekolah yang belum terjamah oleh pemerintah, sekolah itu sangatlah tidak layak pakai dan saat musim hujanpun sekolah terpaksa untuk diliburkan.

Di kelas Saskia adalah siswi yang sangat aktif dan cerdas, dia mendapatkan peringkat pertama di kelas semester pertama.
“Saskia, ikut ibu dulu nak ke kantor” ucap Bu Hidayah.
“Iya bu” jawab Saskia.
Tiba di ruang kantor guru, saskia duduk dikursi usang itu.
“Nak... ini surat untuk ibu mu, besok ibu mu menghadap ibu ya” ujar Bu Hidayah pelan.
“Memangnya ada apa bu?” tanya Saskia polos.
“Kamu belum bayar SPP 5bln Nak” jawab Bu Hidayah.
“Oh soal itu, baiklah bu, terimakasih” jawab Saskia sembari beranjak pergi dari ruangan itu.

Waktu pulang sekolah pun tiba. Saskia segera menuju kamar mandi dan berganti pakaian untuk mencari pekerjaan hari ini. Lalu perlahan Saskia menuju pasar yang sudah biasa ia datangi.
“Kasihan ibu dan ayah, aku harus membantu mereka” ucapnya dalam hati.
Kali ini Saskia bekerja membantu ibu-ibu yang membawa belanjaan banyak.
“Ibu boleh saya bantu bawaannya?” tawar Saskia.
“Iya boleh nak”
Hari itu lumayan Saskia mendapatkan uang 25rb dan ia segera pulang karena waktu yang sudah sangat sore. Diperjalanan dia bertemu dengan pengemis tua, dan dia merasa sangat kasihan pada pengemis itu.
“Nenek kelihatannya lemas sekali, nenek sakit?” tanya Saskia pada pengemis itu.
“Saya belum makan 2 hari ini nak, saya hanya minum air putih saja, itupun hanya dua kali” jawab pengemis itu lemas.
“Kalau begitu ini untuk nenek, lumayan untuk nenek makan dan beli minum” sembari menyerahkan uang 25rb yang tadi dia dapatkan dari hasil kerjanya.
“Terimakasih nak, kau memang gadis kecil yang berhati mulia, semoga tuhan selalu memberikan kecukupan untuk mu” ucap pengemis itu merasa terharu dengan sikap gadis mungil itu.
“Iya sama-sama nek, kalau begitu aku pulang dulu ya nek, nenek segeralah membeli makan dan minum agar nenek selalu sehat” ucap Saskia dan beranjak meninggalkan emperan toko itu lalu ia pulang.
“Iya hati-hati nak”
“Iya nek” sembari tesenyum manis melihat nenek itu tersenyum untuknya.

Setibanya Saskia di rumah.
“Assalamualaikum...” dengan suara yang lucu itu ia membuka pintu.
“Walaikumsalam, kamu dari mana saja Kia ?” tanya ibunya.
“Tadi aku bekerja membantu ibu-ibu di pasar membawakan belanjaannya bu” jelas Saskia dengan wajah yang polos.
“Ya ampun nak, kamu ga usah bekerja lagi ya nak, tugas mu hanyalah belajar sekarang, biar ibu dan ayah yang mencari uang untuk biaya sekolah mu nak” respon ibu Saskia sembari meneteskan air mata karena ia kagum dengan anaknya yang mau ikut bekerja demi kelangsungan sekolahnya.
“Ibu ga usah nangis, Kia ga apa-apa ko” tangan kecilnya itu mengusap air mata sang ibunda.
“Maafkan ibu dan ayah ya Kia? Kami belum bisa membahagiakan mu seperti anak-anak yang lainnya, sekarang kamu mandi lalu makan ya nak” sembari mencium pipi gembilnya itu.
“Aku tidak apa-apa ibu, tapi maaf juga ya ibu, hari ini aku ga bawa uang, uangnya aku kasih untuk nenek tua yang belum makan tadi” ucap polosnya Kia memeluk ibundanya.
“Kamu memang anak ibu yang sangat cantik dan baik, itu adalah hal yang mulia, kamu ga perlu minta maaf sama ibu” jawabnya bangga pada anaknya.
“Hem ini surat untuk ibu dari bu guru, dan katanya besok ibu ke sekolah ku untuk menemui Bu Hidayah guru ku” sembari mengeluarkan surat dari tas yang sudah robek kecil dibagian kanan dan kirinya itu.
“Baik, besok ibu akan ke sekolah mu nak”

Keesokan harinya Saskia berangkat sekolah ditemani ibundanya. Diperjalanan Saskia memberikan uang recehnya kepada para pengemis yang ia jumpai.
“Kamu memang peri kecil ibu nak” ucap ibunya dalam hati sembari tersenyum bangga.
Sesampainya mereka disekolah, Saskia langsung mengantarkan ibunya ke ruang guru untuk menemui Bu Hidayah.
“Assalamualaikum bu..” ucap ibu Saskia.
“Walaikumsalam, silahkan duduk ibu..” jawab bu Hidayah.
“Sebenarnya ada apa ya ibu menyuruh saya datang kemari?”
“Mengenai bayaran SPP, Kia belum membayarnya 5bln” jelas bu Hidayah.
“Oh masalah itu ya bu, baik bu saya akan segara melunasinya, namun saya butuh waktu satu minggu ini ya bu” jawab ibu Saskia.
“Oke, baiklah kalau begitu ibu”

Lalu ibu Saskia pun pulang, ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa membayarnya dalam jangka waktu yang seminggu ini. Berjalan perlahan dan dia menubruk Ibu muda dan kaya raya yang mengenakan pakain berwarna biru langit dan jilbabnya yang menutupi auratnya.
“Ma, ma, maaf bu, saya tidak sengaja” ucap ibu Saskia gugup.
“Ya tidak apa-apa bu, ibu mengapa melamun dikeramaian seperti ini?” tanya ibu Riyana pelan.
“Tidak, saya hanya memikirkan anak saya saja bu”
“Memang anak ibu kenapa, sakit?”
“Tidak bu, saya perlu biaya untuk sekolah anak saya”
“kalau begitu ibu mau tidak menjadi pembantu di rumah saya, kebetulan saya sedang memerlukan pembantu bu, saya akan beri upah Rp 1.000.000,00 -,bulan? Bagaimana bu?” tawar ibu Riyana pada ibu Saskia itu.
“I, i..iya saya mau bu, tapi saya butuh uang itu minggu ini bu?” dengan wajah yang mulai berseri dan meredup kembali.
“Kamu tidak perlu khawatir untuk biaya anak kamu biar saya yang tanggung”
“Benar begitu bu?” rasa tak percaya menatap wajah bu Riyana.
“Iya benar ibu” dengan tersenyum manis dan penuh rasa percaya bahwa ibu Saskia adalah seorang ibu yang jujur dan bertanggung jawab.
“Terimakasih ya bu, terimakasih banyak bu !” jawab ibu Saskia bahagia.
“Kalau begitu sekarang ibu ke rumah saya dan kalau bisa ibu mulai bekerja hari ini” jelas bu Riyana.
“Iya bu saya mau !” dengan nada yang penuh semangat.

Dan akhirnya Saskia dapat bersekolah dengan nyaman dan menikmati masa kecilnya dengan wajar.
“Ini berkat anak ku juga, dia selalu bersedekah kepada sesama dan kini Allah memberikan balasan yang lebih dari yang anak ku keluarkan, keikhlasan adalah hal yang terpenting dalam bersedekah, Allah tidak pernah tidur dan Dia slalu mendengarkan curahan hati hambanya, terimakasih ya Allah atas segala karunia-Mu, kini ku rasakan betapa Indahnya Bersedekah J”


DMCA Protection on: http://www.lokerseni.web.id/2012/09/cerpen-pendidikan-islam-indahnya.html#ixzz2B4clZLxQ